Hakikat Jodoh (part 1)

Jodoh ada di tangan-Nya. Kalau Anda tidak mau meminta kepada-Nya maka wajar saja jika jodoh Anda akan selalu di tangan-Nya.

Tapi janganlah meminta jodoh kepada-Nya dengan memaksakan kehendak diri. Seperti "Ya Allah, jika ia jodohku maka mudahkanlah, jika ia bukan jodohku maka jodohkanlah, jika ia sudah berjodoh dengan orang lain maka putuskanlah, lalu jodohkanlah ia denganku"

Apalagi sampai berdo'a agak mengancam "Ya Allah, jika ia jodohku maka terimalah ia di sisiku. Dan jika ia bukan jodohku maka terimalah ia di sisi-Mu. Aku ikhlas ya Allah, mendingan aku atau dia yang mati, daripada aku melihatnya hidup bersama yang lain"
Na'udzubillaahimindzaalik

 

Tapi cobalah berdo'a untuk mendapatkan jodoh terbaik dengan do'a yang penuh kesantunan, do'a yang membuat Allah tambah sayang kepadamu.

Contohnya seperti berikut : "Ya Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti, pertemukanlah aku dengan jodoh yang akan membaikkanku, dan jadikanlah aku sebagai jodoh yang pantas bagi orang-orang yang baik"

Atau jika Anda sudah punya target yang jelas, maka bolehlah Anda berdo'a "Ya Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, aku mencintai-Mu, tapi kini cintaku pun melekat pada hamba-Mu yang itu (sebutkan namanya), maafkanlah aku, ampunilah aku, lepaskanlah cintaku darinya agar aku bisa lebih utuh mencintai-Mu. Jika ia jodohku, mudahkanlah aku untuk bersamanya, sehingga aku kembali fokus kepada-Mu. Dan jika ia bukan jodohku, mudahkanlah aku melupakannya, dan kuatkanlah cintaku kepada-Mu. Dan mudahkanlah aku untuk semakin mencintai-Mu". Aamiin

 

Jodoh itu mengenai keseimbangan, dan bukan sekedar mengenai kecocokan dalam selera saja. Dan keseimbangan itu meliputi "persamaan" dan "perbedaan".

Contoh sederhana, sendal kiri berjodoh dengan sendal kanan.

Persamaannya : sama-sama sendal dengan bahan dasar yang sama dan merek yang sama.

Perbedaannya : bentuknya berbeda, peruntukkannya pun berbeda. Sendal kiri untuk kaki kiri dan sendal kanan untuk kaki kanan.

Ketika sendal kanan melangkah ke depan maka sendal kiri akan menjaga keseimbangan; yakni tetap berada di belakang. Begitupun sebaliknya. Tidak indah kan jika sendal kiri dan kanan berjalan bersamaan. Kayak pocong dong hehe. Tugas memang berbeda, tapi tujuannya tetap sama.

Akan terjadi bencana jika sendal kiri mulai ogah berada di bawah kaki kiri, yakni tatkala ia mulai "cemburu" dengan sendal kanan yang selalu didahulukan dalam bergerak. Akhirnya sendal kiri pun mulai kehilangan jati dirinya, sebab ia lebih memilih memperturutkan hawa nafsunya.

Tidakkah mereka takut jika di Akhirat Allah bertanya : "Hai sendal kiri, engkau sungguh sombong dan kufur nikmat, Aku telah menciptakanmu sebagai sendal kiri, tapi engkau enggan berperan sebagai sendal kiri dan malah sibuk menganggu sendal kanan hingga terjadilah kekacauan karena ulahmu".

 

Atau bisa saja si sendal kiri sudah menganggap sendal kanan tak lagi becus berfungsi sebagai sendal kanan, dan si sendal kanan pun sudah menganggap sendal kiri tak lagi becus berperan menjadi sendal kiri. Dan mereka pun saling menyalahkan dan mengancam.

Akhirnya sendal kanan dan sendal kiri pun bertukar posisi. Siapa tahu dengan bertukar posisi akan menyelesaikan masalah. Tapi justru dengan pertukaran poisisi itulah yang menambah rusaknya cara "berjalan kaki" di alam semesta ini.

Nah, begitulah kira-kira pengibaratannya antara suami dan istri. Jika para suami mulai mengambil tugas para istri dan para istri mulai mengambil tugas para suami, maka hancurlah rumah tangga di semesta ini. Keluarga yang dibangun tidak akan berjalan seimbang..

So, jika Anda wanita maka belajarlah menjadi wanita yang utuh, dan jika Anda pria maka jadilah pria yang utuh. Jangan sampai rumah tangga (keluarga) hancur karena kita salah mengambil peran, pria seperti wanita dan wanita seperti pria. Inilah pentingnya kita harus paham ilmu berumah tangga.

Hancurnya rumah tangga berefek kepada hancurnya pendidikan anak-anak, hancurnya pendidikan akan membuat hancurnya karakter, hancurnya karakter akan menghancurkan sebuah Negara.

Ingatlah bahwa Negara menjadi kuat dimulai dari keluarga yang seimbang, bukan dari lembaga pendidikan yang disetir oleh kurikulum yang gak jelas. Maka jangan serahkan sepenuhnya anak-anak Anda kepada lembaga pendidikan lalu Anda merasa terbebas karena sudah menukar kewajiban Anda mendidik Anak-anak Anda dengan uang SPP.

 

wallaahu a'lam

insya Allah berlanjut ke part 2

Tweet@KangZainS3

www.cahaya-semesta.com

Sat, 25 Aug 2012 @20:31


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+9+8

Menu
Artikel
Komentar
Tulis Nama DOMAIN web Dambaanmu di bawah ini!

Cek Nama Domain ?

Copyright © 2014 Allah Yang Memiliki Hak Cipta · All Rights Reserved
powered by sitekno